Halo pembaca setia! Siapa di antara kita yang suka dibombardir dengan iklan langsung meminta beli tanpa basa-basi? Atau justru lebih tertarik pada promosi yang lembut, halus seperti rayuan gombal? Nah, dalam dunia digital marketing, ada dua pendekatan berbeda yang digunakan untuk menarik perhatian konsumen: soft selling dan hard selling. Yuk, simak artikel ini sampai habis untuk memahami perbedaan kedua strategi tersebut dan bagaimana mengaplikasikannya dalam video marketing!
Apa itu soft selling dalam digital marketing?

Pertama-tama, mari kita bahas tentang soft selling dalam dunia digital marketing. Soft selling merupakan strategi pemasaran yang lebih bersifat persuasif dan tidak terlalu agresif dalam mempromosikan produk atau jasa kepada konsumen. Jadi, intinya bukan sekadar menekan konsumen untuk segera membeli, tapi lebih ke arah membangun hubungan dan kepercayaan.
Dalam soft selling, fokus utamanya adalah menyampaikan nilai tambah dari produk atau jasa yang ditawarkan agar konsumen merasa tertarik tanpa merasa ditekan. Cara penyampaiannya pun cenderung lebih halus, seperti memberikan informasi berguna atau cerita inspiratif yang mengaitkan dengan brand secara tidak langsung.
Salah satu kelebihan dari soft selling adalah kemampuannya untuk menciptakan hubungan jangka panjang dengan konsumen. Dengan pendekatan yang lembut ini, konsumen cenderung merasa nyaman dan percaya sehingga potensi untuk loyalitas dan repeat purchase menjadi lebih tinggi.
Jadi, apakah kamu tim soft selling? Ataukah masih lebih condong ke hard selling? Mari kita eksplorasi bersama-sama dalam artikel ini!
Apa saja perbedaan soft selling dan hard selling saat membuat video marketing

Perbedaan antara soft selling dan hard selling sangat penting untuk dipahami dalam digital marketing, sebelum kamu bisa menentukan konsep video marketing yang sesuai.
Jangka waktu penjualan
Dalam soft selling, pendekatan yang digunakan lebih bersifat jangka panjang. Tim pemasaran cenderung membangun hubungan dengan calon konsumen secara bertahap, tanpa terburu-buru untuk melakukan penjualan langsung.
Di sisi lain, dalam hard selling, fokusnya adalah pada penjualan yang cepat dan agresif. Tujuan utamanya adalah mendorong konsumen untuk segera membeli produk atau layanan yang ditawarkan tanpa menunda-nunda. Jadi, jika kamu melihat iklan yang berusaha meyakinkan kamu untuk segera membeli sesuatu dengan tawaran diskon besar-besaran hanya dalam waktu singkat, itu mungkin merupakan teknik hard selling.
Dalam konteks video marketing, jangka waktu penjualan dapat tercermin dari cara cerita disampaikan kepada audiens. Soft selling cenderung menggunakan narasi yang lebih menarik dan emosional untuk membuat konsumen terhubung secara personal dengan merek atau produk tersebut. Sedangkan hard selling biasanya lebih fokus pada fitur dan keuntungan produk secara langsung tanpa banyak bercerita panjang lebar.
Tujuan dan ketertarikan konsumen

Dalam soft selling, tujuan utama adalah untuk membangun hubungan yang kuat dengan konsumen. Bukan hanya sekadar menjual produk, tetapi juga menciptakan keterikatan emosional. Konsumen akan merasa lebih dihargai dan diperhatikan ketika pendekatan dilakukan secara lembut.
Ketertarikan konsumen terhadap soft selling biasanya muncul dari rasa percaya dan kenyamanan yang dibangun oleh brand. Mereka lebih cenderung memilih untuk berinteraksi dengan perusahaan yang tidak terlalu agresif dalam penjualan. Dengan pendekatan ini, konsumen merasa memiliki kebebasan untuk membuat keputusan tanpa tekanan.
Konsumen juga tertarik pada soft selling karena mereka mendapatkan informasi secara edukatif daripada promosi langsung. Mereka diarahkan untuk memahami manfaat produk atau layanan secara mendalam sebelum mengambil keputusan pembelian. Hal ini memberi kesempatan bagi konsumen untuk benar-benar memahami apa yang mereka butuhkan dan mengapa produk tersebut relevan bagi mereka.
Kamu bisa membentuk narasi dengan karakter yang serupa dengan konsumen. Tunjukkan masalah yang mungkin mereka hadapi dan bagaimana produkmu dapat bisa memberikan solusi. Pastikan narasi yang kamu bentuk tidak seperti iklan TV, sebaliknya gunakan 80% narasi untuk menjelaskan cerita masalah dan solusi, 20% dapat mensisipkan kegunaan produk.
Promosi yang dilakukan

Promosi yang dilakukan dalam soft selling cenderung lebih bersifat persuasif dan tidak terlalu agresif. Dalam video marketing, promosi yang dilakukan pada pendekatan ini lebih fokus untuk membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen, seperti testimoni konsumen dan menunjukkan fitur-fitur produk yang bermanfaat bagi konsumen.
Dibandingkan dengan hard selling yang menekankan penjualan langsung, soft selling mendorong konsumen untuk merasa nyaman dan mengidentifikasi diri mereka dengan merek tersebut. Pemasaran lembut seperti ini sering kali menggunakan cerita atau konten edukatif yang memberikan nilai tambah kepada pemirsa.
Dengan pendekatan promosi yang santai namun efektif, soft selling dapat membantu menciptakan kepercayaan dan loyalitas dari konsumen. Strategi ini juga dapat meningkatkan interaksi positif antara merek dan audiensnya.
Jadi, saat merancang strategi pemasaran melalui video, pertimbangkan untuk menerapkan pendekatan soft selling agar pesan promosi dapat tersampaikan secara halus namun tetap berhasil menarik minat konsumen.
Terkadang produser akan membuat serial video tentang resep masakan, dengan menggunakan beberapa produk yang ingin dipromosikan. Sehingga video tersebut akan dianggap sebagai video edukasi oleh penonton dan bukan sekedar video marketing hard selling.
Bidang industri yang menggunakannya

Bidang industri yang menggunakan soft selling dalam video marketing sangat bervariasi. Mulai dari bisnis fashion, kuliner, hingga teknologi, semuanya dapat memanfaatkan pendekatan ini untuk menarik minat konsumen tanpa terkesan terlalu memaksa.
Dalam industri fashion misalnya, perusahaan pakaian sering kali menggunakan soft selling untuk mengkomunikasikan gaya hidup dan nilai merek mereka kepada para pelanggan potensial. Melalui video yang inspiratif dan menarik, penonton akan tertarik untuk lebih mengenal produk mereka tanpa merasa didorong secara langsung untuk membeli.
Sementara itu, dalam industri kuliner, restoran atau produsen makanan seringkali menggunakan strategi soft selling dalam video mereka dengan cara menampilkan proses pembuatan makanan yang lezat atau testimoni pelanggan yang puas. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan dan ketertarikan konsumen tanpa harus melakukan promosi yang terlalu agresif.
Di sektor teknologi juga tidak ketinggalan, perusahaan-perusahaan besar seperti Apple atau Samsung kerap menggunakan pendekatan soft selling dalam video marketing mereka. Dengan fokus pada fitur-fitur unggulan produk tanpa menjual secara langsung, para konsumen diarahkan untuk lebih menghargai nilai tambah dari barang tersebut.

5 pemikiran pada “4 Perbedaan Hard Selling dan Soft Selling dan Aplikasinya dalam Video Marketing”